Home » » DAMPAK OBESITAS BAGI KESEHATAN

DAMPAK OBESITAS BAGI KESEHATAN

Written By Cipinang Besar Selatan on Minggu, 17 November 2013 | 20.59

Balai Warga RW.07 Cipinang Besar Selatan mendapatkan kehormatan dijadikan pusat Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada tanggal 12 November 2013, yang diadakan oleh "Komunitas Pemerhati Kesehatan" tingkat Kelurahan Cipinang Besar Selatan yang diselenggarakan pada hari Minggu 17 November 2013, bekerjasama dengan pengurus RW.07, menghadirkan pembicara Bp. DR. Muhadi spPD Finasim dengan tema "Dampak Obesitas Bagi Kesehatan".
Berikut Pemaparan nya :


Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, obesitas berisiko menyebabkan berbagai jenis penyakit. Beberapa penyakit yang dapat berakar dari obesitas, diantaranya :
Penyakit Jantung Koroner

Jika seseorang mengalami obesitas, maka akumulasi lemak pada tubuh orang tersebut meningkat. Akumulasi lemak ini dapat disimpan di bawah kulit, omentum, jaringan pembuluh darah dan jaringan lemak lain. Bahayanya ialah bila lemak tersimpan pada lapisan pembuluh darah arteri , karena dalam tubuh arteri bertugas menyuplai darah bagi organ vital, seperti otak dan jantung. Lemak yang menumpuk pada pembuluh darah dapat menurunkan fungsi pembuluh tersebut, bahkan menyumbatnya. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa demikian?
Pada prinsipnya, timbunan lemak akan memicu terbentuknya aterosklerosis, penebalan pembuluh darah akibat akumulasi senyawa lemak seperti kolesterol dan trigliserida, khususnya pada arteri koronaria, arteri yang bertugas membawa darah segar ke otot-otot jantung. Asalnya, pengaruh lemak ini tidak bersifat langsung, tetapi melalui proses berantai yang kompleks. Secara singkat, lemak yang terakumulasi pada pembuluh darah akan menimbulkan peradangan, yang pada akhirnya membentuk tonjolan plak yang mempersempit diameter dalam pembuluh darah. Pada sindrom koroner akut, biasanya telah terjadi pecahnya plak tersebut yang nantinya dapat menyumbat pada arteri koroner.
Lemak akan memicu terbentuknya aterosklerosis, penebalan pembuluh darah akibat akumulasi senyawa lemak seperti kolesterol dan trigliserida, khususnya pada arteri koronaria, arteri yang bertugas membawa darah segar ke otot jantung
Gejala penyakit jantung koroner yang disebut dengan sindrom koroner akut (“serangan jantung”) timbul ketika terjadi peningkatan kebutuhan oksigen jantung tanpa disertai pasokan yang memadai, atau penurunan suplai oksigen pada jantung. Peningkatan kebutuhan oksigen ini terjadi pada saat jantung melakukan kerja berat misalnya pada saat berolahraga berat. Sedangkan penurunan suplai oksigen disebabkan karena adanya pengerutan atau penyumbatan arteri koroner. Apabila kebutuhan oksigen jantung tidak terpenuhi dalam jangka waktu tertentu, maka otot jantung akan mengalami kekurangan oksigen dalam darah (iskemia), yang lama kelamaan akan diikuti dengan matinya sel otot jantung (nekrosis). Kondisi iskemia dan nekrosis inilah yang menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan henti jantung pada penderita penyakit jantung koroner.
Resistensi Insulin dan Diabetes Melitus type 2
Obesitas dapat memicu intoleransi glukosa dan resistensi hormon insulin, yang dapat berujung pada diabetes melitus tipe 2. Kondisi insulin resisten sangat berkaitan erat dengan timbunan dari lemak dalam perut. Ada beberapa faktor utamanya, seperti asam lemak bebas yang naik akibat kenaikan massa lemak tubuh, yang berdampak pada penurunan sensitifitas insulin, adanya akumulasi lipid dalam sel, dan adanya beberapa peptide yang dapat diproduksi oleh jaringan lemak yang dapat memodifikasi fungsi dan aksi dari insulin. Disisi lain, seseorang dengan kondisi hyperinsulinemia dan insulin yang resisten, dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan mencegah dari kehilangan berat badan.
Obesitas dapat memicu intoleransi glukosa dan resistensi hormon insulin, yang dapat berujung pada diabetes melitus tipe 2. Kondisi insulin resisten sangat berkaitan erat dengan timbunan dari lemak dalam perut
Fakta lain menunjukkan bahwa obesitas memicu peradangan mikro dalam tubuh yang terjadi secara menyeluruh dan terus menerus. Mekanisme peradangan tersebut dapat berkaitan erat dengan terjadinya respon stress yang berujung pada resistensi fungsi insulin. Dari sini, kita dapat mengambil faedah yaitu, obesitas, adalah salah satu faktor resiko utama diabetes dan memang faktanya 80% pada pasien diabetes type 2, mengalami obesitas. Adanya olahraga dan pengurangan berat badan, terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan sensitifitas dari insulin dan memperbaiki kontrol gula darah pada pasien diabetes.
Penyakit reproduksi
Ternyata, terdapat fakta menarik tentang obesitas yang dapat mempengaruhi dari sistem reproduksi pada manusia baik laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki yang mengalami penurunan fungsi organ dan hormon reproduksinya, sangat berkaitan erat dengan naiknya jaringan lemak pada dirinya. Biasanya disertai dengan membesarnya daerah sekitar otot dada, sehingga payudaranya tampak membesar yang disebut dengan ginekomastia.
Pada wanita sendiri, obesitas sangat berkaitan erat dengan abnormalitas siklus menstruasi. Fakta menunjukkan bahwa wanita dengan oligomenorrhea yang obese maka cenderung mengalami sindrom ovarian polikistik. Selain itu, tingginya jumlah perubahan androstenedion menjadi estrogen -suatu proses hormonal yang diperantarai oleh sel-sel lemak-, dapat menaikkan kejadian kanker rahim pada wanita postmenopause dengan obesitas.
Seorang laki-laki yang mengalami penurunan fungsi organ dan hormon reproduksinya, sangat berkaitan erat dengan naiknya jaringan lemak pada dirinya
Penyakit pulmonal
Obesitas sangat berkaitan dengan sejumlah gangguan pada paru, hal ini terjadi karena berkaitan dengan pengurangan elastisitas kembang-kempis dari dinding dada, sehingga fungsi pernafasan akan turun. Akibatnya terjadi naiknya sisa udara dalam paru dan naiknya jumlah cadangan udara dalam dada setelah seseorang menghembuskan nafas. Beberapa orang dengan obesitas yang berat mengeluhkan kesulitan tidur, henti nafas saat tidur (apnea) dan yang disebut dengan sindrom hipoventilasi, yang ditandai dengan kondisi kekurangan oksigen dan kelebihan karbondioksida. Apnea pada saat tidur juga dapat terjadi secara sentral, yakni di otak, yang nantinya dapat memicu hipertensi.
Penyakit hepatobilier
Obesitas nantinya dapat menimbulkan tertimbunnya lemak pada liver yang tidak dipicu oleh alkohol (non alcoholic fatty liver disease (NAFLD)). Pada kondisi ini, NAFLD dapat mengalami perubahan menjadi peradangan liver yang disertai perlemakan yang lebih luas, yang berpeluang berkembang menjadi pengerasan liver (sirosis) dan kanker liver. Disisi lain, obesitas akan memicu sekresi kolesterol berlebih dalam cairan empedu, dan dengan ini dapat menjadi faktor resiko terbentuknya batu empedu. Selain itu, bila disertai peradangan maka dapat menyebabkan radang kantung empedu. Diantara gejalanya adalah rasa nyeri di daerah perut bagian atas setelah mengkonsumsi makanan berlemak.
Disisi lain, obesitas akan memicu sekresi kolesterol berlebih dalam cairan empedu, dan dengan ini dapat menjadi faktor resiko terbentuknya batu empedu
Kanker
Obesitas pada laki-laki sangat berkaitan dengan tingkat kematian disebabkan kanker, terutama kanker kerongkongan, usus besar, rektum, pankreas, liver dan prostat. Sedangkan pada perempuan, obesitas sangat berpengaruh pada terjadinya kanker kantung empedu, kanker payudara, dinding rahim, serviks dan kanker ovarium.
Penyakit tulang, sendi dan penyakit kulit
Ternyata pada manusia, obesitas juga berpengaruh pada penyakit degeneratif, seperti osteoarthritis (peradangan sendi). Adanya kenaikan beban tubuh, ditambah peradangan pada sendi, dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan tulang rawan sendi, terutama sendi yang digunakan untuk menopang berat tubuh seperti sendi lutut. Selain itu obesitas juga dapat berpengaruh pada kulit, seperti dapat terjadi penyakit acanthosis nigrican, yang bermanifestasi pada menggelapnya kulit di bagian lipatan dan lekukan tubuh, seperti ketiak, selangkangan, dan leher. Kulit di bagian tersebut bisa jadi menebal dan berbau tidak sedap. Adanya lipid pada lipatan kulit ini nantinya akan dapat menjadi resiko dari infeksi jamur, misalnya infeksi jamur kandida, dengan berbagai derajat infeksi (ws)

Dokumentasi terkait :








Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PT. Bryan Rekayasa Teknologi
Copyright © 2013. .: Website :. RW 07 CBS - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger